Pak Menteri, Kasus Kekerasan Seksual di Lingkup Pendidikan Makin ‘Ngeri’

KILASKATA.COM – Nasib yang menimpa dua siswi SMP di Kab. Mesuji, Sumatera Selatan sungguh tragis, karena kembali dicabuli oleh kepala sekolah justeru saat mereka melapor telah dicabuli oleh rekan kelasnya.

Pelaku, ketua yayasan yang juga kepala sekolah, AT (50), ungkap Kapolres Mesuji AKBP Yuli Haryudo (12/1), dilaporkan oleh orang tua korban atas kasus yang menimpa anak mereka, Desember lalu.

Kedua koran, NVP (12) dan AS (12), saat ini masih dirawat di rumah masing-masing untuk menghapus trauma yang mereka alami saat dipanggil oleh AT ke ruangannya untuk mengonfirmasi pelecehan seksual yang dilakukan rekan sekelas mereka.

Alih-alih mendengarkan laporan kedua siswi, AT malah menyuruh mereka membuka baju dan lagi-lagi melakukan pencabulan pada mereka.

Kedua korban melaporkan aksi pencabulan oleh kepsek itu yang saat ini sudah ditahan di kantor polisi, namun tidak diperoleh informasi tentang pelaku pencabulan yang rekan sekelas korban

Kasus-kasus kekerasan terutama di lingkup pendidikan termasuk yang bernafas agama di negeri ini bagai fenomena “gunung es” yang cuma tampak sebagian di permukaan.

Yang viral dalam beberapa bulan terakhir ini a.l. pencabulan oleh guru terhadap tujuh santriwati, dilakukan oleh SAW, guru Ponpes di Banjarnegara, Jateng, sementara RAZ (31), guru SLB di Semarang memerkosa siswinya yang seorang penyandang dissabilitas.

Dalam kasus pencabulan dan perkosaan terhadap sejumlah santriwati di Pesantren Siddiqqiyah, Jombang, pelaku (MSAT)  putera pemilik Ponpes bisa leluasa dan berkeliaran bertahun-tahun.

17 Kasus Pencabulan 2022

Menurut catatan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) tercatat 17 kasus kekerasan seksual di lingkup pendidikan di Indonesia sepanjang 2022.

Tentu saja masih banyak kasus yang tidak muncul di permukaan, karena korban takut melaporkannya, diselesaikan secara kekeluargaan atau tidak dilanjutkan kasusnya karena berbagai hal.

Entah apa yang ada di benak Mendikbud dan Menteri Agama (yang membawahi pesantren) terkait maraknya kasus-kasus kekerasan khususnya kekerasan seksual di lingkup pendidikan.

Sejauh ini tidak tampak “greget” atau perhatian, empati dan simpati  kedua menteri pada para korban dan upaya mereka mencegah terulangnya kasus yang mencoreng-moreng dunia pendidikan ini ke depannya.

Ayo Pak Mendikbud dan Menag, jauhkan anak didik kita terutama perempuan dari berbagai bentuk kekerasan, khususnya kekerasan  seksual!

Sumber: (kbk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *